Perhentian bagi Kebebalan dan Kebijakan

Kelas saya pernah menjadi salah satu kelas idaman para guru karena kekompakan dan prestasi mereka tetapi semua kebanggaan itu seakan remuk karena tetesan air mata seorang guru yang  jatuh ketika menghampiri saya untuk melaporkan apa yang baru saja terjadi di kelasnya.

Kesabaran seakan datang berhadapan dengan saya dan menguji saya untuk bisa berhadapan dengannya. Entah harus berkata apa dan berbuat apa. Yang saya tahu hanyalah amarah tidak akan menyelesaikan apa pun melainkan memperkeruh keadaan.

Jika memang benar harus menghadapi kebenaran, maka saya harus datang kepada Kasih dan meminta bantuannya agar saya dapat mengasihi murid-murid saya dan diri saya sendiri. Sesaat saya datang kepada Kasih, terbesit cerita Daud, Nabal dan Abigail yang pernah saya baca pada masa kebodohan saya dahulu.

NABAL

“Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikianlah ia: Nabal namanya dan bebal orangnya. …” 1 Samuel 25:25 TB

Rasanya tidak perlu terlalu jauh untuk menjelaskan seperti apa Nabal itu jika kita sudah mengetahui arti namanya sendiri. Pribadinya sesuai dengan namanya, yaitu bebal. Ada apa dengan orangtuanya sehingga mengaruniakan nama yang memiliki arti demikian?

Nabal hadir sebagai simbol kebebalan bagi setiap kita. Dalam kisah 1 Samuel 25, Daud sedang marah terhadap Nabal karena Nabal tidak mengindahkan upaya dan pesan Daud yang telah disampaikan oleh Daud kepada Nabal melalui orang-orangnya. Nabal dalam sekejap membuat Daud menjadi marah. Bukan marah yang biasa jika Daud mengirim empat ratus orang dengan pedang untuk menghampiri Nabal. Hati Daud seakan kacau sekali saat itu.

Kita bisa saja terjebak di dalam kondisi di mana kita dapat murka seperti Daud. Jika kita mengingat kisah Daud dengan Saul, Daud pernah memotong puncah jubah Saul. Kisah itu sering membuat beberapa orang terkagum dengan kebijaksanaan Daud dalam menghadapi orang yang diurapi oleh Allah. Tetapi bukan berarti Nabal, yang tidak diurapi oleh Allah, dapat dibunuh begitu saja. Pembunuhan Nabal bisa saja diperhitungkan sebagai dosa.

Pada akhirnya kita tahu bahwa Allah mengizinkan Daud belajar agar tidak menurunkan derajatnya menjadi serendah Nabal dan Allah tidak mengizinkan Daud untuk mengambil hak-Nya untuk menghukum Nabal. Penghakiman adalah hak Allah dan bukan manusia.

Kondisi tersulit selalu ada dan selalu lebih siap untuk bertemu dengan kita. Namun, Pribadi terbesar selalu ada di sisi kita dan selalu lebih siap untuk menolong kita menghadapi kondisi tersulit.

ABIGAIL

“Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah.” 1 Samuel 25:23 TB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s